Parade Bus Italia Usai Juara Euro 2020 Langgar Izin

Parade Bus Italia Usai Juara Euro 2020 Langgar Izin Parade Bus Italia Usai Juara Euro 2020 Langgar Izin

Parade bus terbuka Italia setelah juara Euro 2020 mereka melanggar izin, secara prefek atau pejabat Romawi kora Roma, Matteo Piantedosi.

Azzurri mengklaim trofi Euro kedua mereka ekstra dalam sejarah usai mengalahkan Inggris silam drama adu penalti dalam Wembley, Senin (12/7) dini hari WIB.

Roberto Mancini dan seluruh pagemarnnya merayakannya dengan membawa trofi ke jalanan kota Roma akan keesokan harinya, namun sekarang terungkap bahwa mereka awalnya tidak diizinkan bagi melakukan parade karena adanya regulasi pembatasan COVID-19.

Prefek kota Roma, Piantedosi mengatakan kepada Corriere della Sera: "Kami telah menolak izin untuk perayaan juara Italia di Euro dengan bus terbuka, namun kesepakatan itu tidak dihormati."

"Jumat lantas kami membentuk komite untuk ketertiban beserta keamanan. Saya telah menyetujui kesepakatan dengan Menteri Dalam Negeri Luciana Lamorgese beserta dengan kepala polisi Lamberto Giannini."

"Pertemuan itu justru bagi memutuskan apa bahwa mesti dilakukan lagi bagi itu kami juga melibatkan langsung FIGC, bahwa meminta agar para atlet timnas bisa berkeliling Roma dengan bus terbuka, tapi jelas dijelaskan bahwa tidak mungkin. Kami mengutarakan kami tidak bisa mengizinkan mereka."

Piantedosi lalu melanjutkan penjelasannya bahwa pihak berwenang Italia pada akhirnya memmeskikan parade berlangsung demi menghindari keributan publik, beserta ribuan suporter sudah hadir bagi melihat langsung para pahlawan negara mereka memamerkan trofi terkontemporer.

"Saya mengerti bahwa [Giorgio] Chiellini dan [Leandro] Bonucci melaksanakan pemahaman mereka lewat tekad kepada staf tentang cara perayaan, dekat saat itu tidak mungkin untuk melakukan apa pun selain memerhatikan situasi dan melakukannya lewat cara sebaik mungkin," katanya.

"Niat energik para pemain akan melanjutkan perayaan dengan naik bus terbuka. Ada ribuan orang bahwa menunggu bus, melarang itu bisa menimbulkan masumbing ketertiban umum."

"Di Roma, kami selantas mencoba menerapkan langkah-langkah anti-Covid beserta merangsang kolaborasi warga beserta kategori produktif daripada memaksakan tindakan kejam."